Bismillah...
Hari ini, bertepatan hari Jumat dimana MA rutin mengadakan senam pagi, aku mengalami sebuah pengalaman simpel tapi maknanya tajam.
Ceritanya sudah 3 bulan ini sejak aku hijrah ke Jakarta aku tidak lagi makan nasi kuning. Padahal sewaktu di Manado nasi kuning itu menu favoritku, apalagi nasi kuning Tanteku di jalan samrat kios 142 (eh udah promosi nih) tiada duanya deh enaknya. Balik lagi ke aku yang sudah "puasa" nasi kuning 3 bulan di Jakarta, sudah seminggu terakhir ini aku sering berkeluh kesah ke suami kalo aku kepengen banget makan nasi kuning. Beliau pun janji weekend nanti akan antar aku hunting nasi kuning. Maklum di ceger dan japos deket rumah sangat susah nyari nasi kuning. Adanya nasi uduk di sepanjang mata memandang hehe...
Bahkan semalem pun kami mengobrol masih membahas topik yang sama yaitu kerinduanku pada nasi kuning.
Hari jumat pagi ini, tidak seperti biasanya aku ke kantor tidak menyiapkan sarapan, baik buat sendiri ataupun beli. Rasanya malas aja, gak tau mau makan apa. Jadilah aku ke kantor tanpa bekal, di bis perutku mulai keroncongan, terbayang biskuit di laci meja, ah makan itu aja. Habis gak punya ide mau makan apa. Padahal pagi ini aku mau senam aerobik di MA. Akhirnya setiba di kantor aku memakan beberapa keping biskuit, lalu dengan agak enggan akupun ikut senam aerobik. Seperti biasa, Mahkamah Agung yang baik hati selalu menyiapkan menu sarapan gratis bagi peserta senam. Akupun mengambil kotak itu, ah paling juga bubur ayam, ya sudah ku makan saja bubur ayam meski sebenarnya aku tak terlalu suka bubur ayam. Habis lapar banget sih, cuma ganjal biskuit terus senam. Pas sampe ruangan, begitu ku buka kotaknya...tadaaaa!!!!! NASI KUNING!!!! akupun terbelalak dan gak sadar memekik sendiri alhamdulillah gak percaya dengan pemandangan dalam kotak. Sesuatu yang selama ini ku idam-idamkan, dan kebetulan akupun dalam keadaan sangat lapar.
Hatikupun meleleh dan tak sadar mata jadi berkaca-kaca. Bukan, bukannya aku lebay ato drama queen dengan menangis karena nasi kuning. Ini bukan hanya tentang nasi kuning semata, tapi bagaimana kita terharu dengan rencana indah Allah dalam hidup kita. Hingga hal simpel seperti nasi kuning saja sudah cukup untuk menggambarkan kekuasaan Allah, dan indahnya rasa bahagia saat Allah mengabulkan keinginan kita. Yah, walau ini hanya sekotak nasi kuning, tapi sudah sanggup buat aku meleleh. Bahagianya mungkin mirip seperti kita dapat uang kaget gitu hehe maka nikmat Tuhan yang mana lagi yang mau kita dustakan?
Ternyata untuk bahagia itu tidak perlu rumit ya, bahagia itu ternyata sangat simpel, sangat sederhana. Dan bahagia itu juga ternyata murah ya. Hanya dengan sekotak nasi kuning yang harganya mungkin tidak sampai puluhan ribu, tapi pengalaman batinnya terasa mahal dan kaya. Yeahh, aku baru sadar bahagia itu adalah sebuah pengalaman batin, dan hati lah yang merasakannya. Fisik dan benda itu hanya sarananya saja. Makanya ada segelintir orang yang punya banyak harta dan kemewahan tapi hidupnya hampa, tidak bahagia. Ya karena itu tadi, bahagia itu sebuah pengalaman di batin, bukan hanya di lahir saja.
Aku terharu bukan hanya soal nasi kuning saja, tapi tentang Allah yang sayang pada ku. Syukur Alhamdulillah ya Allah....... #nyamnyam
Kamis, 07 Januari 2016
Selasa, 08 Desember 2015
Legends Of the Fall, ketika darah lebih kental dari air
Bismillah...
Pertama kali nonton film ini sewaktu aku SMU sekitar tahun 1997 di sebuah TV swasta. Awalnya gak niat buat begadang nonton sampai habis, niat awalnya cuman mau nonton sebentar trus bobo (soalnya filnya mulai di atas jam 9 malam), tapi malah gak bisa berhenti nonton karena ceritanya keren. Film ini diproduksi tahun 1994.
Tokoh utamanya adalah Tristan, si anak tengah dari 3 bersaudara anak seorang veteran tentara Kolonel Ludlow, yang memilih tinggal di sebuah peternakan di daerah Montana. Tristan mempunyai kakak Alfred dan adik Samuel. Mereka bertiga sangat kompak dan saling menyayangi dengan sifatnya masing-masing. Alfred yang bijak dan selalu hidup sesuai aturan, Tristan yang kebalikannya, agak liar, serta Samuel yang khas anak bungsu, naif dan cenderung manja.
Ketika mereka beranjak dewasa, masuklah Susannah dalam hidup mereka sebagai tunangan Samuel. Setelah berkenalan dengan kakak-kakak Samuel, diam-diam Susannah menaruh simpati pada Tristan. Gayanya yang ngasal dan liar ternyata adalah kharisma yang kuat menjadi magnet menarik Susannah. Biasalah, cewe-cewe selalu terpikat dan penasaran pada cowo tipe bad boy hehe
Cobaan mulai datang menerpa tiga Ludlow bersaudara karena mereka bertiga ternyata menyukai Susannah, dan ketika Samuel tewas dalam perang, Tristan jadian dengan Susannah. Alfred kalah oleh Tristan, namun kedewasaannya sebagai anak sulung aku angkat jempol deh. Nah yang jadi masalah nih si Tristan yang labil pasca tewasnya Samuel. Dia yang sangat terpukul dan dikejar rasa bersalah karena tidak dapat menyelamatkann Samuel saat perang, akhirnya memilih pergi dari rumah untuk menghilangkan traumanya, meninggalkan Susannah. Tambah kacau deh. Susannah yang memang sejak awal sudah naksir Tristan harus menerima kenyataan ditinggal dan digantung. Awalnya Tristan rutin mengirim surat, tapi akhirnya tidak berkabar lagi hingga akhirnya datang surat terakhirnya yang menyuruh Susannah melupakannya dan menikah dengan orang lain saja. Hancurlah hati Susannah. Saat itulah Alfred yang sudah mapan dan calon anggota dewan, datang untuk menolong dan akhirnya menikahi Susannah. Mendapati kenyataan ini, Kolonel Ludlow marah pada Alfred dan Susannah. Menurutnya Susannah masihlah calon istri Tristan. Namun dengan kenyataan bahwa Tristanlah yang meninggalkan Susannah, Kolonel Ludlow pun stres kepikiran hingga akhirnya menderita stroke.
Kolonel Ludlow sangat menyayangi anak-anaknya, namun dia akhirnya berkonflik juga dengan Alfred, selain keputusan Alfred menikahi Susannah juga soal keputusan Alfred untuk menjadi anggota dewan. Kolonel Ludlow adalah seorang veteran tentara yang berubah menjadi anti pemerintah yang menindas suku Indian. Dia tidak pernah merestui keputusan Alfred untuk menjadi anggota dewan.
Singkat cerita, hubungan Alfred dan sang ayah serta Tristan pun memburuk. Berbagai peristiwa terjadi kemudian yang menjadikan hubungan mereka mulai membaik. Sekembali Tristan dari pengembarannya, dia menikah dengan Isabel Two, gadis indian yang dibesarkan serta dianggap anak sendiri oleh kolonel Ludlow. Isabel ini juga sejak kecil sangat memuja Tristan. Sayang kebahagiaan mereka tidaklah lama, Isabel meninggal tertembak oleh kolega Alfred yang tidak senang dengan usaha Tristan dalam bisnis minuman alkohol. Tristan yang sempat masuk tahanan, begitu bebas ia pun membalas dendam dan membunuh adik dari kolega Alfred tersebut. Kolega Alfred itu akhirnya datang ke rumah kolonel Ludlow mencari Tristan dan akan membunuhnya, dengan mengajak sherrif dan polisi yang sudah dia suap. Diam-diam Alfred juga datang untuk membela keluarganya, membela ayah dan adik kandungnya dan membunuh koleganya sendiri.
Darah memang lebih kental dari air. Film ini menginspirasikan itu, bahwa walau bagaimana pun, keluarga adalah tempat kembali kita. Sedekat apapun kita dengan kolega dan sahabat kita, namun tidak bisa mengalahkan keluarga. Kita boleh saja berkonflik dengan keluarga, dengan saudara atau orang tua, namun kekentalan darah akan selalu menarik kita untuk kembali. Alfred pada akhirnya sadar, Tristan yang liar dan ayahnya yang selalu membela Tristan, adalah tempat kembalinya setelah kematian Susannah. Dia pada akhirnya paham bahwa koleganya yang selama ini mendukungnya hanyalah semu semata demi kepentingan.
Entah mengapa sosok Tristan yang selalu menganggap dirinya sendiri sebagai pembawa sial dalam keluarganya, malah menjadi yang paling disayangi. Bahkan semarah-marahnya Alfred pada Tristan, pada akhirnya tetap bersatu sebagai kakak dan adik. Sebuah ungkapan tokoh indian One Stab yang dalam film ini selain memerankan juga menjadi narator, bahwa Tristan itu ibarat batu besar yang keras, dan semua orang yang menyayanginya ibarat membenturkan tubuh mereka pada batu tersebut, alias akan menderita dan hancur karenanya. Itulah yang terjadi pada Kolonel Ludlow, Alfred, Susannah bahkan Isabel Two.
Ada banyak adegan menyentuh dalam film ini. Beberapa di antaranya adalah adegan saat Tristan pulang dari pengembarannya yang sangat lama, kedatangannya dengan diiringi puluhan kuda dengan latar musik yang megah membawa nuansa optimisme dan kebahagiaan ke ranch Kolonel Ludlow yang selama ini gersang dan seakan mati saat sang Kolonel jatuh sakit. Para penghuni ranch sangat bersuka cita dengan kepulangan tristan, dan suka cita itu menjalar hingga ke aku sebagai penonton karena teknik pengambilan gambar dan latar musik tadi yang sangat bagus. hehe. Adegan menyentuh lainnya yaitu saat Alfred diam-diam kembali ke peternakan Kolonel Ludlow karena tau koleganya akan mengeksekusi Tristan, dan dengan heroik ia menembak Sherrif korup yang bersiap membunuh Kolonel Ludlow. Sangat mengejutkan. Hingga Kolonel Ludlow pun akhirnya berterima kasih dan menerima Alfred kembali dalam keluarganya yang telah porak poranda.
Film ini ditutup dengan adegan yang sangat menggugah, Tristan tua tewas diserang beruang. Dan itu adalah kematian yang indah (kata naratornya).
Gambar alam serta ilustrasi musik film ini sangat apik. Peran para aktor dan aktris pun bagus. Enaknya nonton film ini sih di HBO saja karena adegan kurang pantas ala hollywoodnya sudah kena sensor hehe. Aku sangat suka musik karya James Horner untuk film ini. Dan menurutku, akting Aidan Quinn sebagai Alfred tidak kalah keren dari Brad Pitt sebagai Tristan. Walaupun film ini sudah 21 tahun lalu, tapi masih enak ditonton :)
Pertama kali nonton film ini sewaktu aku SMU sekitar tahun 1997 di sebuah TV swasta. Awalnya gak niat buat begadang nonton sampai habis, niat awalnya cuman mau nonton sebentar trus bobo (soalnya filnya mulai di atas jam 9 malam), tapi malah gak bisa berhenti nonton karena ceritanya keren. Film ini diproduksi tahun 1994.
Tokoh utamanya adalah Tristan, si anak tengah dari 3 bersaudara anak seorang veteran tentara Kolonel Ludlow, yang memilih tinggal di sebuah peternakan di daerah Montana. Tristan mempunyai kakak Alfred dan adik Samuel. Mereka bertiga sangat kompak dan saling menyayangi dengan sifatnya masing-masing. Alfred yang bijak dan selalu hidup sesuai aturan, Tristan yang kebalikannya, agak liar, serta Samuel yang khas anak bungsu, naif dan cenderung manja.
Ketika mereka beranjak dewasa, masuklah Susannah dalam hidup mereka sebagai tunangan Samuel. Setelah berkenalan dengan kakak-kakak Samuel, diam-diam Susannah menaruh simpati pada Tristan. Gayanya yang ngasal dan liar ternyata adalah kharisma yang kuat menjadi magnet menarik Susannah. Biasalah, cewe-cewe selalu terpikat dan penasaran pada cowo tipe bad boy hehe
Cobaan mulai datang menerpa tiga Ludlow bersaudara karena mereka bertiga ternyata menyukai Susannah, dan ketika Samuel tewas dalam perang, Tristan jadian dengan Susannah. Alfred kalah oleh Tristan, namun kedewasaannya sebagai anak sulung aku angkat jempol deh. Nah yang jadi masalah nih si Tristan yang labil pasca tewasnya Samuel. Dia yang sangat terpukul dan dikejar rasa bersalah karena tidak dapat menyelamatkann Samuel saat perang, akhirnya memilih pergi dari rumah untuk menghilangkan traumanya, meninggalkan Susannah. Tambah kacau deh. Susannah yang memang sejak awal sudah naksir Tristan harus menerima kenyataan ditinggal dan digantung. Awalnya Tristan rutin mengirim surat, tapi akhirnya tidak berkabar lagi hingga akhirnya datang surat terakhirnya yang menyuruh Susannah melupakannya dan menikah dengan orang lain saja. Hancurlah hati Susannah. Saat itulah Alfred yang sudah mapan dan calon anggota dewan, datang untuk menolong dan akhirnya menikahi Susannah. Mendapati kenyataan ini, Kolonel Ludlow marah pada Alfred dan Susannah. Menurutnya Susannah masihlah calon istri Tristan. Namun dengan kenyataan bahwa Tristanlah yang meninggalkan Susannah, Kolonel Ludlow pun stres kepikiran hingga akhirnya menderita stroke.
Kolonel Ludlow sangat menyayangi anak-anaknya, namun dia akhirnya berkonflik juga dengan Alfred, selain keputusan Alfred menikahi Susannah juga soal keputusan Alfred untuk menjadi anggota dewan. Kolonel Ludlow adalah seorang veteran tentara yang berubah menjadi anti pemerintah yang menindas suku Indian. Dia tidak pernah merestui keputusan Alfred untuk menjadi anggota dewan.
Singkat cerita, hubungan Alfred dan sang ayah serta Tristan pun memburuk. Berbagai peristiwa terjadi kemudian yang menjadikan hubungan mereka mulai membaik. Sekembali Tristan dari pengembarannya, dia menikah dengan Isabel Two, gadis indian yang dibesarkan serta dianggap anak sendiri oleh kolonel Ludlow. Isabel ini juga sejak kecil sangat memuja Tristan. Sayang kebahagiaan mereka tidaklah lama, Isabel meninggal tertembak oleh kolega Alfred yang tidak senang dengan usaha Tristan dalam bisnis minuman alkohol. Tristan yang sempat masuk tahanan, begitu bebas ia pun membalas dendam dan membunuh adik dari kolega Alfred tersebut. Kolega Alfred itu akhirnya datang ke rumah kolonel Ludlow mencari Tristan dan akan membunuhnya, dengan mengajak sherrif dan polisi yang sudah dia suap. Diam-diam Alfred juga datang untuk membela keluarganya, membela ayah dan adik kandungnya dan membunuh koleganya sendiri.
Darah memang lebih kental dari air. Film ini menginspirasikan itu, bahwa walau bagaimana pun, keluarga adalah tempat kembali kita. Sedekat apapun kita dengan kolega dan sahabat kita, namun tidak bisa mengalahkan keluarga. Kita boleh saja berkonflik dengan keluarga, dengan saudara atau orang tua, namun kekentalan darah akan selalu menarik kita untuk kembali. Alfred pada akhirnya sadar, Tristan yang liar dan ayahnya yang selalu membela Tristan, adalah tempat kembalinya setelah kematian Susannah. Dia pada akhirnya paham bahwa koleganya yang selama ini mendukungnya hanyalah semu semata demi kepentingan.
Entah mengapa sosok Tristan yang selalu menganggap dirinya sendiri sebagai pembawa sial dalam keluarganya, malah menjadi yang paling disayangi. Bahkan semarah-marahnya Alfred pada Tristan, pada akhirnya tetap bersatu sebagai kakak dan adik. Sebuah ungkapan tokoh indian One Stab yang dalam film ini selain memerankan juga menjadi narator, bahwa Tristan itu ibarat batu besar yang keras, dan semua orang yang menyayanginya ibarat membenturkan tubuh mereka pada batu tersebut, alias akan menderita dan hancur karenanya. Itulah yang terjadi pada Kolonel Ludlow, Alfred, Susannah bahkan Isabel Two.
Ada banyak adegan menyentuh dalam film ini. Beberapa di antaranya adalah adegan saat Tristan pulang dari pengembarannya yang sangat lama, kedatangannya dengan diiringi puluhan kuda dengan latar musik yang megah membawa nuansa optimisme dan kebahagiaan ke ranch Kolonel Ludlow yang selama ini gersang dan seakan mati saat sang Kolonel jatuh sakit. Para penghuni ranch sangat bersuka cita dengan kepulangan tristan, dan suka cita itu menjalar hingga ke aku sebagai penonton karena teknik pengambilan gambar dan latar musik tadi yang sangat bagus. hehe. Adegan menyentuh lainnya yaitu saat Alfred diam-diam kembali ke peternakan Kolonel Ludlow karena tau koleganya akan mengeksekusi Tristan, dan dengan heroik ia menembak Sherrif korup yang bersiap membunuh Kolonel Ludlow. Sangat mengejutkan. Hingga Kolonel Ludlow pun akhirnya berterima kasih dan menerima Alfred kembali dalam keluarganya yang telah porak poranda.
Film ini ditutup dengan adegan yang sangat menggugah, Tristan tua tewas diserang beruang. Dan itu adalah kematian yang indah (kata naratornya).
Gambar alam serta ilustrasi musik film ini sangat apik. Peran para aktor dan aktris pun bagus. Enaknya nonton film ini sih di HBO saja karena adegan kurang pantas ala hollywoodnya sudah kena sensor hehe. Aku sangat suka musik karya James Horner untuk film ini. Dan menurutku, akting Aidan Quinn sebagai Alfred tidak kalah keren dari Brad Pitt sebagai Tristan. Walaupun film ini sudah 21 tahun lalu, tapi masih enak ditonton :)
Rabu, 25 November 2015
Finally, dari Sulawesi Utara ke Medan Merdeka Utara
Bismillah...
Setelah mendapat SK pindah, tanggal 26 Oktober lalu aku melapor untuk pertama kali ke kantor baruku, Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung RI yang mana lokasi kantornya di Gedung Sekretariat MA jalan Ahmad Yani Cempaka Putih Jakarta Pusat. lantai 6-8. Di gedung ini pula berkantor Ditjen Badilum, Ditjen Badilmimtun serta BAWAS. Dan setelah menhadap Pak Sekretaris Ditjen, aku ternyata ditugaskan menjadi staf di Direktorat Pranata dan Tata Laksana Perkara Perdata Agama Ditjen Badilag MA RI, yang mana lokasi kantornya justru di Gedung MA kawasan Medan Merdeka Utara Jakarta Pusat.
Alamak, awalnya kaget dan agak stres juga memikirkannya.Aku mengajukan pindah ke Badilag di Jalan Ahmad Yani karena pertimbangan biar dekat dengan kantor suami di Pusdiklat Bea dan Cukai Rawamangun. Lokasinya memang lumayan dekat jadi aku berangkat dan pulang bisa bareng suami dengan menumpang mobil jemputan Bea dan Cukai. Makanya ketika dengar penugasan aku ke Medan Merdeka, aku sampai jatuh sakit selama 2 hari di rumah karena kepikiran hehe eh bukan ding, karena tekanan darahku naik (jadi berasa tua nih, padahal aku aslinya penderita hipotensi alias darah rendah lhoo). Makanya pas weekendnya suami ajak aku dan anak-anak jalan-jalan ke Ragunan biar aku terhibur. Akhirnya aku bisa menerima penugasanku. Aku mencoba berdamai dengan diriku sendiri. Penugasan toh tidak bisa ditolak lagi kan, masalahnya ada pada pikiranku saja.
Pada tanggal 3 Nopember 2015, Kabag Kepegawaian dan seorang staf Kepegawaian mengantar aku ke Medan Merdeka Utara. Dan akupun resmi diterima di Direktorat Pranata dan Tata Laksana Perkara Perdata Agama (disingkat Ditpratalak). Resmilah aku berkantor disitu. Hal pertama yang aku lakukan yaitu menghubungi Pak Ari, staf BUA bagian Mutasi yang sudah aku kenal untuk bertanya tentang "cara berangkat dan pulang" hehe Alhamdulillah atas info beliau, ternyata di MA ada bus-bus antar jemput pegawai, dan yang melintasi daerah dekat rumahku ada, yaitu jurusan Ciledug. YESSSS ALHAMDULILLAH, langsung deh aku mencari busnya dan mendaftar ama sopirnya hehe alhamdulillah lagi masih ada tempat kosong. Hanya membayar iuran rp.100.000,- perbulan kami bisa diantar jemput, asyik kan..... keren banget deh. Ternyata untuk kantor pusat berbagai kementerian/Lembaga di Jakarta, memang disediakan fasilitas bus antar jemput pegawai. Tidak cuma MA saja, tapi Kementerian Dalam Negeri (sebelah MA), Kementerian Perhubungan, Kementerian Sosial, dan masih banyak lagi termnasuk instansi suamiku Kementerian Keuangan. Jadi kalau pagi dan sore pas jam berangkat dan jam pulang kerja, iring-iringan bus antar jemput berseliweran di sepanjang jalan Medan Merdeka ini. Pemandangan yang tidak pernah ku lihat di Manado.
Ohya, mengapa Ditpratalak Ditjen Badilag kantornya terpisah dari Ditjen Badilag? Padahal Ditpratalak merupakan bagian dari Ditjen Badilag. Jawabannya, karena Ditpratalak ini mengurusi perkara kasasi dan peninjauan kembali, jadi butuh untuk selalu terhubung dengan Kepaniteraan MA dan para Hakim Agung, makanya khusus untuk Ditpratalak diharuskan berkantor di gedung MA. Tidak hanya Badilag, Ditpratalak Badilum dan Badilmiltun juga berkantor di Medan Merdeka, di Lantai 5.
Alhamdulillah, aku merasa justru lebih enjoy di Medan Merdeka. Tidak seperti yang ku kira, ternyata di Medan Merdeka asik. Tiap hari memandangi Monas heheheh plus kantor kami Gedung MA bersebelahan dengan Istana Merdeka dan Istana Negara. Rasanya tidak pernah menyangka akan berkantor disini. Alhamdulillah ya Allah...
Setelah mendapat SK pindah, tanggal 26 Oktober lalu aku melapor untuk pertama kali ke kantor baruku, Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung RI yang mana lokasi kantornya di Gedung Sekretariat MA jalan Ahmad Yani Cempaka Putih Jakarta Pusat. lantai 6-8. Di gedung ini pula berkantor Ditjen Badilum, Ditjen Badilmimtun serta BAWAS. Dan setelah menhadap Pak Sekretaris Ditjen, aku ternyata ditugaskan menjadi staf di Direktorat Pranata dan Tata Laksana Perkara Perdata Agama Ditjen Badilag MA RI, yang mana lokasi kantornya justru di Gedung MA kawasan Medan Merdeka Utara Jakarta Pusat.
Alamak, awalnya kaget dan agak stres juga memikirkannya.Aku mengajukan pindah ke Badilag di Jalan Ahmad Yani karena pertimbangan biar dekat dengan kantor suami di Pusdiklat Bea dan Cukai Rawamangun. Lokasinya memang lumayan dekat jadi aku berangkat dan pulang bisa bareng suami dengan menumpang mobil jemputan Bea dan Cukai. Makanya ketika dengar penugasan aku ke Medan Merdeka, aku sampai jatuh sakit selama 2 hari di rumah karena kepikiran hehe eh bukan ding, karena tekanan darahku naik (jadi berasa tua nih, padahal aku aslinya penderita hipotensi alias darah rendah lhoo). Makanya pas weekendnya suami ajak aku dan anak-anak jalan-jalan ke Ragunan biar aku terhibur. Akhirnya aku bisa menerima penugasanku. Aku mencoba berdamai dengan diriku sendiri. Penugasan toh tidak bisa ditolak lagi kan, masalahnya ada pada pikiranku saja.
Pada tanggal 3 Nopember 2015, Kabag Kepegawaian dan seorang staf Kepegawaian mengantar aku ke Medan Merdeka Utara. Dan akupun resmi diterima di Direktorat Pranata dan Tata Laksana Perkara Perdata Agama (disingkat Ditpratalak). Resmilah aku berkantor disitu. Hal pertama yang aku lakukan yaitu menghubungi Pak Ari, staf BUA bagian Mutasi yang sudah aku kenal untuk bertanya tentang "cara berangkat dan pulang" hehe Alhamdulillah atas info beliau, ternyata di MA ada bus-bus antar jemput pegawai, dan yang melintasi daerah dekat rumahku ada, yaitu jurusan Ciledug. YESSSS ALHAMDULILLAH, langsung deh aku mencari busnya dan mendaftar ama sopirnya hehe alhamdulillah lagi masih ada tempat kosong. Hanya membayar iuran rp.100.000,- perbulan kami bisa diantar jemput, asyik kan..... keren banget deh. Ternyata untuk kantor pusat berbagai kementerian/Lembaga di Jakarta, memang disediakan fasilitas bus antar jemput pegawai. Tidak cuma MA saja, tapi Kementerian Dalam Negeri (sebelah MA), Kementerian Perhubungan, Kementerian Sosial, dan masih banyak lagi termnasuk instansi suamiku Kementerian Keuangan. Jadi kalau pagi dan sore pas jam berangkat dan jam pulang kerja, iring-iringan bus antar jemput berseliweran di sepanjang jalan Medan Merdeka ini. Pemandangan yang tidak pernah ku lihat di Manado.
Ohya, mengapa Ditpratalak Ditjen Badilag kantornya terpisah dari Ditjen Badilag? Padahal Ditpratalak merupakan bagian dari Ditjen Badilag. Jawabannya, karena Ditpratalak ini mengurusi perkara kasasi dan peninjauan kembali, jadi butuh untuk selalu terhubung dengan Kepaniteraan MA dan para Hakim Agung, makanya khusus untuk Ditpratalak diharuskan berkantor di gedung MA. Tidak hanya Badilag, Ditpratalak Badilum dan Badilmiltun juga berkantor di Medan Merdeka, di Lantai 5.
Alhamdulillah, aku merasa justru lebih enjoy di Medan Merdeka. Tidak seperti yang ku kira, ternyata di Medan Merdeka asik. Tiap hari memandangi Monas heheheh plus kantor kami Gedung MA bersebelahan dengan Istana Merdeka dan Istana Negara. Rasanya tidak pernah menyangka akan berkantor disini. Alhamdulillah ya Allah...
Senin, 02 November 2015
Perjalanan panjang
Every time I close my eyes I see you in front of me
I still can hear your voice calling out my name
And I remember all the stories you told me
I miss the time you were around [x2]
But I’m so grateful for every moment I spent with you
‘Cause I know life won’t last forever
Bait-bait di atas adalah syair lagu So Soon dari Maher Zain. Ketika itu hari masih gelap, langit masih penuh bintang, selesai subuh aku bergegas masuk mobil dengan membawa barang pindahanku. Ya, di hari sepagi itu aku pindah, dari Bitung ke Jakarta. Mama papa menemani mengantarku ke bandara.
Betapa kaget dan tersentuhnya aku saat itu, mobil yang kusewa memutar lagu tersebut. Keharuan merayapi hati dan pikiranku, meski tak ku nampakkan pada Mama Papa. Mungkin inilah perasaan mereka saat itu, meski mereka pun mungkin menyembunyikannya dariku. Tapi lagu itu seolah "menelanjangi" topeng kami masing-masing.
Mungkin itulah jeritan hati Mama Papaku, you went so soon so soon, you left so soon so soon... Aku pun tidak bisa menyembunyikan kesedihanku dalam diamku, kalau bukan untuk suami dan anak-anakku niscaya aku tak kan meninggalkan mereka di usia tuanya.
Lalu aku flashback ke belakang, hidup ternyata sebuah perjalanan panjang. Teringat masa kanak-kanak, masa sekolah lalu hingga masa berkeluarga, tiada dirasa waktu lekas berlalu, kehidupan yang tertinggal di belakang menyisakan album kenangan yang mengharu biru ketika dibuka.
Hidup ternyata hanya lingkaran pertemuan dan perpisahan. Bahkan dengan orang tua sekalipun, yang saat dimasa kecil menjadi sandaran hidup, tetap akan berpisah.
Maka kini, ketika aku sedang bersama Umar Nadia, kuresapi baik-baik bahwa kebersamaan kami hanya sementara. Akan tiba saatnya aku akan meninggalkan atau ditinggalkan. Mereka cuma titipan. Saat aku letih mengurus mereka, atau saat aku lelah mendengar cerita-cerita mereka para bocah, aku selalu cam kan bahwa kebersamaan kami sementara. Uruslah mereka walau letih. Dengarlah cerita antusias mereka dengan perhatian, karena akan datang saatnya mereka akan pergi dari kita, dan ketika saat itu tiba, saat kita rindu ingin mengurus mereka atau ingin mendengar celotehan mereka, mereka sudah pergi. Mengejar hidupnya masing-masing. Karena waktu itu tidaklah lama. Saat perpisahan itu tidak terasa akan makin mendekat.
Mama Papa tercinta, hanya pada Allah lah ku titipkan kalian, karena Dialah sebaik-baik Penjaga. Semoga selalu dalam lindungan dan rahmatNya. Semoga bisa berkumpul kembali di dunia hingga ke jannah, amiinn...
Medan Merdeka Utara, 3 nop.2015
I still can hear your voice calling out my name
And I remember all the stories you told me
I miss the time you were around [x2]
But I’m so grateful for every moment I spent with you
‘Cause I know life won’t last forever
You went so soon, so soon
You left so soon, so soon
I have to move on ’cause I know it’s been too long
I’ve got to stop the tears, keep my faith and be strong
I’ll try to take it all, even though it’s so hard
I see you in my dreams but when I wake up you are gone
Gone so soon
You left so soon, so soon
I have to move on ’cause I know it’s been too long
I’ve got to stop the tears, keep my faith and be strong
I’ll try to take it all, even though it’s so hard
I see you in my dreams but when I wake up you are gone
Gone so soon
Night and day, I still feel you are close to me
And I remember you in every prayer that I make
Every single day may you be shaded by His mercy
But life is not the same, and it will never be the same
But I’m so thankful for every memory I shared with you
‘Cause I know this life is not forever
And I remember you in every prayer that I make
Every single day may you be shaded by His mercy
But life is not the same, and it will never be the same
But I’m so thankful for every memory I shared with you
‘Cause I know this life is not forever
You went so soon, so soon
You left so soon, so soon
I have to move on ’cause I know it’s been too long
I’ve got to stop the tears, keep my faith and be strong
I’ll try to take it all, even though it’s so hard
I see you in my dreams but when I wake up you are gone
You left so soon, so soon
I have to move on ’cause I know it’s been too long
I’ve got to stop the tears, keep my faith and be strong
I’ll try to take it all, even though it’s so hard
I see you in my dreams but when I wake up you are gone
There were days when I had no strength to go on
I felt so weak and I just couldn’t help asking: “Why?”
But I got through all the pain when I truly accepted
That to God we all belong, and to Him we’ll return, ooh
I felt so weak and I just couldn’t help asking: “Why?”
But I got through all the pain when I truly accepted
That to God we all belong, and to Him we’ll return, ooh
You went so soon, so soon
You left so soon, so soon
I have to move on ’cause I know it’s been too long
I’ve got to stop the tears, keep my faith and be strong
I’ll try to take it all, even though it’s so hard
I see you in my dreams but when I wake up you are gone
Gone so soon
Bismillah...You left so soon, so soon
I have to move on ’cause I know it’s been too long
I’ve got to stop the tears, keep my faith and be strong
I’ll try to take it all, even though it’s so hard
I see you in my dreams but when I wake up you are gone
Gone so soon
Bait-bait di atas adalah syair lagu So Soon dari Maher Zain. Ketika itu hari masih gelap, langit masih penuh bintang, selesai subuh aku bergegas masuk mobil dengan membawa barang pindahanku. Ya, di hari sepagi itu aku pindah, dari Bitung ke Jakarta. Mama papa menemani mengantarku ke bandara.
Betapa kaget dan tersentuhnya aku saat itu, mobil yang kusewa memutar lagu tersebut. Keharuan merayapi hati dan pikiranku, meski tak ku nampakkan pada Mama Papa. Mungkin inilah perasaan mereka saat itu, meski mereka pun mungkin menyembunyikannya dariku. Tapi lagu itu seolah "menelanjangi" topeng kami masing-masing.
Mungkin itulah jeritan hati Mama Papaku, you went so soon so soon, you left so soon so soon... Aku pun tidak bisa menyembunyikan kesedihanku dalam diamku, kalau bukan untuk suami dan anak-anakku niscaya aku tak kan meninggalkan mereka di usia tuanya.
Lalu aku flashback ke belakang, hidup ternyata sebuah perjalanan panjang. Teringat masa kanak-kanak, masa sekolah lalu hingga masa berkeluarga, tiada dirasa waktu lekas berlalu, kehidupan yang tertinggal di belakang menyisakan album kenangan yang mengharu biru ketika dibuka.
Hidup ternyata hanya lingkaran pertemuan dan perpisahan. Bahkan dengan orang tua sekalipun, yang saat dimasa kecil menjadi sandaran hidup, tetap akan berpisah.
Maka kini, ketika aku sedang bersama Umar Nadia, kuresapi baik-baik bahwa kebersamaan kami hanya sementara. Akan tiba saatnya aku akan meninggalkan atau ditinggalkan. Mereka cuma titipan. Saat aku letih mengurus mereka, atau saat aku lelah mendengar cerita-cerita mereka para bocah, aku selalu cam kan bahwa kebersamaan kami sementara. Uruslah mereka walau letih. Dengarlah cerita antusias mereka dengan perhatian, karena akan datang saatnya mereka akan pergi dari kita, dan ketika saat itu tiba, saat kita rindu ingin mengurus mereka atau ingin mendengar celotehan mereka, mereka sudah pergi. Mengejar hidupnya masing-masing. Karena waktu itu tidaklah lama. Saat perpisahan itu tidak terasa akan makin mendekat.
Mama Papa tercinta, hanya pada Allah lah ku titipkan kalian, karena Dialah sebaik-baik Penjaga. Semoga selalu dalam lindungan dan rahmatNya. Semoga bisa berkumpul kembali di dunia hingga ke jannah, amiinn...
Medan Merdeka Utara, 3 nop.2015
SIMPEG, KETIKA IMAJINASIKU MENJADI NYATA
Bismillah...
Aplikasi Simpeg atau Sistem Manajemen Kepegawaian bagiku adalah imajinasi yang menjadi kenyataan #halah eh tapi benerrr lho
Kok bisa ya aplikasi kepegawaian online menjadi imajinasi seorang Titi? Kenapa bukan rumah bak istana, mobil bak kereta kencana? Kenapa malah memimpikan sebuah.... Aplikasi kantoran hehe
Yah semua berawal sejak aku CPNS di tempatkan di Pengadilan Agama Bitung bagian Kepegawaian. Biasalah namanya anak baru dikasih kerjaan ngetik-ngetik dan mengelola arsip. Tapi lama-lama asyik juga.
Sebuah kegiatan rutin yang tiap hari dilakonin, membuat surat atau SK lalu setelah berstempel maka arsipnya disimpan dalam sebuah lemari arsip kepegawaian. Lengkap dan rapi. Nah itu juga ide yang muncul di kepalaku ini, untuk membuat sebuah "lemari virtual" berupa arsip data komputernya. Maka kubuatlah folder Lemari Virtual Kepegawaian yang kususun atas beberapa folder atas nama masing-masing pegawai. Lalu di dalam folder itu kususun juga folder-folder yang berkaitan dengan pegawai tersebut, antara lain SK Pangkat, SK Mutasi, KGB, KP4, DP3, dll seperti layaknya di lemari kepegawaian yang berjejer rapi. Hanya saja ini bentuk virtualnya. Niatnya sih hanya untuk kerapian saja. Juga agar mudah bila ingin mengakses dokumen tentang seorang pegawai. Bukanlah ide atau imajinasi yang WAH, tapi hanya sebuah ide sederhana menurutku.
Tak dinyana beberapa saat berselang, Ditjen Badilag MA RI meluncurkan aplikasi SIMPEG ONLINE yang memiliki aplikasi turunan berupa E-DOCUMENT, yang bentuknya pada prinsipnya persis Lemari Virtual Kepegawaian saya. Wah alhamdulillah, seneng banget ternyata imajinasiku bisa menjadi kenyataan. Ternyata Pusat bisa "membaca" isi kepalaku #lebay.com hehehe iya dong, kalau kita bisa mengarsip dokumen dalam bentuk kasar, maka harusnya kita juga bisa mengarsip dokumen dalam bentuk data komputernya. Itu saja pikiranku.
Semula tidak banyak pegawai yang sadar pentingnya e-document itu, sehingga mereka masih melihat dengan sebelah mata aplikasi tersebut, jika kami meminta dokumen pribadi mereka (yang tidak lengkap di lemari kepeg) untuk diinput, mereka masih ogah-ogahan.
Kemudian, ketika kantor kami Pengadilan Agama Manado dilanda banjir bandang di pagi hari dan tidak sempat menyelamatkan berkas, maka hancurlah semua dokumen termasuk dokumen kepegawaian. Rasanya pengen nangis deh lihat lemari arsip kepegawaian yang roboh dan isinya sudah hancur tenggelam oleh air banjir.
Nah, disinilah fungsi dari e-document menjadi sangat terasa. Mereka yang data e-doc nya lengkap tidaklah khawatir, karena softcopynya masih tersimpan dan bisa diprint lagi. Hanya data kasarnya yang lenyap. Baru berasa banget deh gunanya e-doc.
Saran aku, dalam hal apapun hidup kita, usahakan kita selalu membuat dan menyimpan softcopy dokumen penting kita, baik yang bersifat dinas maupun pribadi. Usahakan kita punya simpanan dalam bentuk virtualnya. Bukankah ini zaman era digital? Tentunya tidak rugi bila kita ikut kemajuan zaman yang satu ini hehe
Aplikasi Simpeg atau Sistem Manajemen Kepegawaian bagiku adalah imajinasi yang menjadi kenyataan #halah eh tapi benerrr lho
Kok bisa ya aplikasi kepegawaian online menjadi imajinasi seorang Titi? Kenapa bukan rumah bak istana, mobil bak kereta kencana? Kenapa malah memimpikan sebuah.... Aplikasi kantoran hehe
Yah semua berawal sejak aku CPNS di tempatkan di Pengadilan Agama Bitung bagian Kepegawaian. Biasalah namanya anak baru dikasih kerjaan ngetik-ngetik dan mengelola arsip. Tapi lama-lama asyik juga.
Sebuah kegiatan rutin yang tiap hari dilakonin, membuat surat atau SK lalu setelah berstempel maka arsipnya disimpan dalam sebuah lemari arsip kepegawaian. Lengkap dan rapi. Nah itu juga ide yang muncul di kepalaku ini, untuk membuat sebuah "lemari virtual" berupa arsip data komputernya. Maka kubuatlah folder Lemari Virtual Kepegawaian yang kususun atas beberapa folder atas nama masing-masing pegawai. Lalu di dalam folder itu kususun juga folder-folder yang berkaitan dengan pegawai tersebut, antara lain SK Pangkat, SK Mutasi, KGB, KP4, DP3, dll seperti layaknya di lemari kepegawaian yang berjejer rapi. Hanya saja ini bentuk virtualnya. Niatnya sih hanya untuk kerapian saja. Juga agar mudah bila ingin mengakses dokumen tentang seorang pegawai. Bukanlah ide atau imajinasi yang WAH, tapi hanya sebuah ide sederhana menurutku.
Tak dinyana beberapa saat berselang, Ditjen Badilag MA RI meluncurkan aplikasi SIMPEG ONLINE yang memiliki aplikasi turunan berupa E-DOCUMENT, yang bentuknya pada prinsipnya persis Lemari Virtual Kepegawaian saya. Wah alhamdulillah, seneng banget ternyata imajinasiku bisa menjadi kenyataan. Ternyata Pusat bisa "membaca" isi kepalaku #lebay.com hehehe iya dong, kalau kita bisa mengarsip dokumen dalam bentuk kasar, maka harusnya kita juga bisa mengarsip dokumen dalam bentuk data komputernya. Itu saja pikiranku.
Semula tidak banyak pegawai yang sadar pentingnya e-document itu, sehingga mereka masih melihat dengan sebelah mata aplikasi tersebut, jika kami meminta dokumen pribadi mereka (yang tidak lengkap di lemari kepeg) untuk diinput, mereka masih ogah-ogahan.
Kemudian, ketika kantor kami Pengadilan Agama Manado dilanda banjir bandang di pagi hari dan tidak sempat menyelamatkan berkas, maka hancurlah semua dokumen termasuk dokumen kepegawaian. Rasanya pengen nangis deh lihat lemari arsip kepegawaian yang roboh dan isinya sudah hancur tenggelam oleh air banjir.
Nah, disinilah fungsi dari e-document menjadi sangat terasa. Mereka yang data e-doc nya lengkap tidaklah khawatir, karena softcopynya masih tersimpan dan bisa diprint lagi. Hanya data kasarnya yang lenyap. Baru berasa banget deh gunanya e-doc.
Saran aku, dalam hal apapun hidup kita, usahakan kita selalu membuat dan menyimpan softcopy dokumen penting kita, baik yang bersifat dinas maupun pribadi. Usahakan kita punya simpanan dalam bentuk virtualnya. Bukankah ini zaman era digital? Tentunya tidak rugi bila kita ikut kemajuan zaman yang satu ini hehe
Rabu, 28 Oktober 2015
Tumbang di Hari Ke Tiga
Bismillah...
Menulis coretan ini di kamar rumah mertua, ditemani Nadia yang lagi "bobo insyaAllah" (bobo dengan lantunan Maher Zain). Hei, ini kan hari Kamis, kok malah di rumah aja? Yupp, aku tumbang di hari ke tiga ngantor, rabu kemarin tidak kuat lagi menahan kerapuhanku yang sebenarnya sudah mulai terasa sejak hari keberangkatanku ke Jakarta. Apalagi ada insiden 6,5 jam di bandara Soetta. Aku yang sebenarnya janjian dengan suami yang berangkat dari Medan selepas dinas luar untuk sama-sama landing dan bertemu di Soetta. Tapi tak dinyana, pesawat suami delay selama 3,5 jam karena kabut asap di Kualanamu, sedangkan pesawatku on time dari Samratulangi. Jadilah ketika aku mendarat di Soetta, suami belum juga boarding. Jrenggg! Rasanya mau nangis. Mau pulang duluan tapi rasanya tidak sanggup dengan bawaan bagasi 6 koli (overnya 53kg dengan bayaran 1,4juta huhuuu...hehe namanya juga pindahan). Kalo di Soetta bisa sewa porter tapi kalo turun dari taksi n mau masukin ke rumah gak tau gimana deh. Total jenderal 6,5 jam aku duduk menunggu suami di soetta.
Hari pertama ngantor, deg degan juga membayangkan akan menyeberang jalan Ahmad Yani by pass yang rame dan kendaraannya melaju kencang gitu. Alhamdulillah ada jembatan penyeberangan di Rawasari, jaraknya sekitar 300 meter dari Gedung MA, ya nggak apa-apalah aku pilih lewat jembatan penyeberangan dan lanjut jalan kaki. Malah bersyukur dikasih kesempatan jogging hehe. Tapi pas pulangnya aku pilih tidak lewat jembatan tapi langsung menyeberang, alhamdulillah jalan Ahmad Yani bisa "ditaklukkan" #halahh walaupun setelah itu ada insiden salah naik metromini rawamangun, untung ketemu abang grab bike yang mau pulang dan beliau mau nganterin ke kantor suami di Pusdiklat Bea dan Cukai. Alhamdulillah.
Meski tiap hari ke kantor dengan menumpang mobil jemputan Bea dan Cukai dari kampus STAN (deket rumah), tapi tetap saja aku kelelahan selepas pindahan. Dalam perjalanan pulang di hari selasa memang aku sudah merasa down banget. Menelan sakit dan tulang belulang rasanya mau lepas heehe. Pas bangun di hari rabu eh ditambah pusing, akhirnya aku batal ngantor. Pas periksa ke klinik diluar dugaan, aku yang biasanya darah rendah kini darahku malah naik. Biasanya tekanan darahku 90/60 kini jadi 120/100. Mungkin buat orang lain itu masih normal tapi bagiku itu sudah hipertensi. Pantesan aku jadi kliyengan, kalo jalan rasanya oleng dan leher jadi kaku kalo menoleh. Aku disuruh istirahat dan banyakin minum air putih ama dokter. Oh begini ya rasanya hipertensi.
Dan kini di kamar ini selain Nadia, aku juga ditemani biskuit regal kesayanganku bila sedang sakit. Jadi rindu Mama Papa hiks hiks, dulu waktu aku kecil bila sakit selalu disediain Regal ama bubur plus teh manis di kamar. Aku sengaja gak ngabarin sakitku ini karena tidak ingin membuat mereka khawatir. Ya Allah jagalah orangtuaku di Bitung, mudahkan segala urusan mereka, berilah kebahagiaan dan keselamatan di dunia dan akhirat, wafatkanlah mereka dalam keadaan khusnul khotimah, amiinn ya robbal alamiin.
Menulis coretan ini di kamar rumah mertua, ditemani Nadia yang lagi "bobo insyaAllah" (bobo dengan lantunan Maher Zain). Hei, ini kan hari Kamis, kok malah di rumah aja? Yupp, aku tumbang di hari ke tiga ngantor, rabu kemarin tidak kuat lagi menahan kerapuhanku yang sebenarnya sudah mulai terasa sejak hari keberangkatanku ke Jakarta. Apalagi ada insiden 6,5 jam di bandara Soetta. Aku yang sebenarnya janjian dengan suami yang berangkat dari Medan selepas dinas luar untuk sama-sama landing dan bertemu di Soetta. Tapi tak dinyana, pesawat suami delay selama 3,5 jam karena kabut asap di Kualanamu, sedangkan pesawatku on time dari Samratulangi. Jadilah ketika aku mendarat di Soetta, suami belum juga boarding. Jrenggg! Rasanya mau nangis. Mau pulang duluan tapi rasanya tidak sanggup dengan bawaan bagasi 6 koli (overnya 53kg dengan bayaran 1,4juta huhuuu...hehe namanya juga pindahan). Kalo di Soetta bisa sewa porter tapi kalo turun dari taksi n mau masukin ke rumah gak tau gimana deh. Total jenderal 6,5 jam aku duduk menunggu suami di soetta.
Hari pertama ngantor, deg degan juga membayangkan akan menyeberang jalan Ahmad Yani by pass yang rame dan kendaraannya melaju kencang gitu. Alhamdulillah ada jembatan penyeberangan di Rawasari, jaraknya sekitar 300 meter dari Gedung MA, ya nggak apa-apalah aku pilih lewat jembatan penyeberangan dan lanjut jalan kaki. Malah bersyukur dikasih kesempatan jogging hehe. Tapi pas pulangnya aku pilih tidak lewat jembatan tapi langsung menyeberang, alhamdulillah jalan Ahmad Yani bisa "ditaklukkan" #halahh walaupun setelah itu ada insiden salah naik metromini rawamangun, untung ketemu abang grab bike yang mau pulang dan beliau mau nganterin ke kantor suami di Pusdiklat Bea dan Cukai. Alhamdulillah.
Meski tiap hari ke kantor dengan menumpang mobil jemputan Bea dan Cukai dari kampus STAN (deket rumah), tapi tetap saja aku kelelahan selepas pindahan. Dalam perjalanan pulang di hari selasa memang aku sudah merasa down banget. Menelan sakit dan tulang belulang rasanya mau lepas heehe. Pas bangun di hari rabu eh ditambah pusing, akhirnya aku batal ngantor. Pas periksa ke klinik diluar dugaan, aku yang biasanya darah rendah kini darahku malah naik. Biasanya tekanan darahku 90/60 kini jadi 120/100. Mungkin buat orang lain itu masih normal tapi bagiku itu sudah hipertensi. Pantesan aku jadi kliyengan, kalo jalan rasanya oleng dan leher jadi kaku kalo menoleh. Aku disuruh istirahat dan banyakin minum air putih ama dokter. Oh begini ya rasanya hipertensi.
Dan kini di kamar ini selain Nadia, aku juga ditemani biskuit regal kesayanganku bila sedang sakit. Jadi rindu Mama Papa hiks hiks, dulu waktu aku kecil bila sakit selalu disediain Regal ama bubur plus teh manis di kamar. Aku sengaja gak ngabarin sakitku ini karena tidak ingin membuat mereka khawatir. Ya Allah jagalah orangtuaku di Bitung, mudahkan segala urusan mereka, berilah kebahagiaan dan keselamatan di dunia dan akhirat, wafatkanlah mereka dalam keadaan khusnul khotimah, amiinn ya robbal alamiin.
Jumat, 23 Oktober 2015
Lirik Lagu Seruling di Lembah Sunyi
Seiring bersama alunan bunyi
Seruling dilembah sunyi
Disana ku duduk seorang diri
Menjelang di malam hari
Terkenang ku akan seorang kasihku
Yang telah pergi entah kemana
Oh angin sampaikanlah salamku
Ku nanti dilembah sunyi
Seindah alunan seruling senja
Begitu cintaku padanya
Terkenang ku akan seorang kasihku
Yang telah pergi entah kemana
Oh angin sampaikanlah salamku
Ku nanti dilembah sunyi
Seindah alunan seruling senja
Begitu cintaku padanya
Begitu cintaku padanya
Sebuah lagu sendu yang entahlah siapa yang menyanyikan pertama kali. Dan membayangkan kita merenung dikeheningan lembah sunyi itu sangat menggetarkan hati. Zaman sekarang ini susah mencari lembah sunyi tempat merenung hehe terlebih saya tinggal di kota. Makanya malam menjelang fajar adalah waktu favorit saya, karena badan sudah fresh baru terbangun, pikiran terasa bening karena keheningan suasana, saya suka sekali merenung pada saat-saat seperti itu. Hmmmmm
Seruling dilembah sunyi
Disana ku duduk seorang diri
Menjelang di malam hari
Terkenang ku akan seorang kasihku
Yang telah pergi entah kemana
Oh angin sampaikanlah salamku
Ku nanti dilembah sunyi
Seindah alunan seruling senja
Begitu cintaku padanya
Terkenang ku akan seorang kasihku
Yang telah pergi entah kemana
Oh angin sampaikanlah salamku
Ku nanti dilembah sunyi
Seindah alunan seruling senja
Begitu cintaku padanya
Begitu cintaku padanya
Sebuah lagu sendu yang entahlah siapa yang menyanyikan pertama kali. Dan membayangkan kita merenung dikeheningan lembah sunyi itu sangat menggetarkan hati. Zaman sekarang ini susah mencari lembah sunyi tempat merenung hehe terlebih saya tinggal di kota. Makanya malam menjelang fajar adalah waktu favorit saya, karena badan sudah fresh baru terbangun, pikiran terasa bening karena keheningan suasana, saya suka sekali merenung pada saat-saat seperti itu. Hmmmmm
Langganan:
Postingan (Atom)