tessssss

Senin, 05 Maret 2018

Ordinary World : Jangan Menangisi Hari Kemarin

"Ordinary World"

Came in from a rainy Thursday
On the avenue
Thought I heard you talking softly

I turned on the lights, the TV
And the radio
Still I can't escape the ghost of you

What has happened to it all?
Crazy, some'd say
Where is the life that I recognize?
Gone away

But I won't cry for yesterday
There's an ordinary world
Somehow I have to find
And as I try to make my way
To the ordinary world
I will learn to survive

Passion or coincidence
Once prompted you to say
"Pride will tear us both apart"
Well now pride's gone out the window
Cross the rooftops
Run away
Left me in the vacuum of my heart

What is happening to me?
Crazy, some'd say
Where is my friend when I need you most?
Gone away

But I won't cry for yesterday
There's an ordinary world
Somehow I have to find
And as I try to make my way
To the ordinary world
I will learn to survive

Papers in the roadside
Tell of suffering and greed
Here today, forgot tomorrow
Ooh, here besides the news
Of holy war and holy need
Ours is just a little sorrowed talk

And I don't cry for yesterday
There's an ordinary world
Somehow I have to find
And as I try to make my way
To the ordinary world
I will learn to survive

Every one
Is my world, I will learn to survive
Any one
Is my world, I will learn to survive
Any one
Is my world
Every one
Is my world




Bismillah...
Pertama dengar lagu dari band Duran-Duran ini sekitar tahun 1993 ketika masih SD. Ketika itu aku masih belum mengerti bahasa Inggris kecuali yes no doang, tapi dengar irama lagu ini kok berasa "magis" gitu. Tidak ada bagian yang klimaks dimana vokalisnya melengkingkan suara seperti lazimnya band rock 80-an dan 90-an, namun irama yang cenderung datar dan konstan ini justru terasa dekat, bersahabat dan bersahaja serta membumi. Setidaknya itulah feeling aku tentang lagu ini. Kemudian dari video klipnya yang menampilkan gadis berbaju bahu terbuka memegang buket bunga tengah berjalan-jalan, seakan mengajak kita untuk melihat perjalanan kita sehari-hari.

Meski iramanya datar dan easy listening, namun tetap ada unsur dramatis dalam lagu ini, setidaknya menurut kuping aku. Petikan gitar di bagian intro kemudian diulang-ulang setelah refrain terasa sangat menyentuh, menjadi salah satu "tanda pengenal" paling akrab dari lagu ini. 

Kemudian tentang liriknya, tentang cerita dalam lagu ini, benar saja dugaanku, tentang menghadapi hidup yang berliku hingga terasa extra ordinary, padahal ada hidup yang (kelihatannya) ordinary di luar sana. Perjuangan mengejar hidup yang normal ternyata berliku, namun dibutuhkan hati yang kuat dan tidak baperan. Yeah like they said "but i won't cry for yesterday...". Optimisme...itulah nilai yang menjalariku ketika dengar lagu ini. Lagu ini mengandung kesedihan, kepedihan namun optimismenya luar biasa. 

Sepanjang langkah kaki mengayun, menorehkan ribuan kenangan, jutaan harapan yang patah, sepenggal hati yang hancur, namun tetaplah jangan menangisi hari kemarin. Dan tetaplah bertahan. Cheerss

Rabu, 09 Agustus 2017

Bocil, Ummi dan Imunisasi

Bismillah...

Sekarang lagi musim imunisasi ya. Anak-anak teman dan tetangga sudah pada diimunisasi di sekolahnya masing-masing. Sekolah Bocil juga ada imunisasi tapi jadwalnya minggu depan sih.

Pengalaman tahun lalu si Kakak Umar mau diimunisasi, jauh-jauh hari aku sudah kondisikan dia, aku ceritakan apa itu imunisasi. Aku bangun keberaniannya untuk tidak cengeng. Bahkan aku minta supaya request giliran pertama disuntik duluan, biar gak horor liat teman-temannya nangis disuntik duluan. Tapi kayaknya pada hari H, si Umar tidak mendapat giliran pertama deh. Aku ajari juga trik relaksasi supaya disuntik terasa lumayan enak alias mengurangi sakit, yaitu sesaat sebelum jarum masuk, aku minta dia menarik nafas dalam-dalam lalu hembuskan lewat mulut ketika jarumnya menancap. Otot yang relaks akan mengurangi rasa stres dan sakit, kira-kira begitulah. Aku larang Umar menahan nafas (hehehe halah padahal ini mah umminya yang paranoid). Kenyataannya pas hari H, Umar terlihat enjoy dan sukses tidak menangis apalagi jejeritan maupun kabur. Terlihat dari foto yang dikirim gurunya ke whatsapp, terlihat Umarku ceria dan masih saja bermain ala anak lelaki.

Tahun ini, ketambahan lagi si Dede Nadia juga akan diimunisasi karena tahun ini Nad sudah kelas 1 SD. Sebagaimana pengalamanku terhadap Umar, aku jauh-jauh hari juga sudah mengenalkan tentang imunisasi kepada Nadia. bahkan lebih terperinci seperti kenapa jarum suntik harus tajam, kenapa harus diolesi alkohol sebelum disuntik. Si Nadia termasuk anak penakut, bahkan untuk minum obat saja mesti minta digenggam tangannya saking merasa takutnya, apatah lagi disuntik ya. Tak lupa juga aku ajari trik relaksasi seperti yang dulu kuajarkan ke Umar. Plus aku tambahin, kalau bisa Nadia ikut menghibur teman-temannya bila ada yang menangis, atau menggandeng temannya bila ada yang takut menghadap ke petugas medis untuk disuntik, maklum Nadia itu anaknya berjiwa sosial yang tinggi. Semoga berhasil ya... setidaknya mengurangi rasa takutnya.

Teringat pengalaman aku dulu sewaktu imunisasi kelas 1 SD, tiada pemberitahuan (setidaknya ke aku dan anak-anak lain), tahu-tahu paramedis sudah nongol aja di kelas. Aku ketakutan deh pokoknya, nangis bahkan mau masuk ke laci meja, sembunyi disitu. Karena itu maka aku dapat giliran paling akhir, tambah horor deh aku lihat teman-teman jejeritan dan berusaha kabur menolak disuntik. Usai disuntik seingatku paramedisnya aku omelin (hahaha maaf yaa) lalu aku dibujuk oleh Bu Guru wali kelas, dipangku dan rambutku dikepangnya sampai aku berhenti menangis. Sedangkan pengalaman imunisasi kelas 6, wah jelas beda donk. Aku cool banget disuntiknya, bahkan maju sendiri minta disuntik. Semua pengalamanku itu aku ceritain ke Bocil biar mereka tahu kejadian sewaktu Umminya diimunisasi, juga biar aku ada alasan memotivasi mereka agar jadi lebih hebat dari Ummi (pengalaman yang kelas 1 SD heheheh).


Minggu, 02 Juli 2017

Keanehan suatu pagi

Bismillah...
Udah lama nih ga isi blog lagi, lagi dateng males nulisnya, plus sibuk kerja, urus keluarga dan nonton film hehe

Well, mumpung lagi inget...mau tulis aja deh tentang pengalaman aneh disuatu pagi hari yang aku alami. Waktu pagi sekira pukul 7.15 saya boncengan dengan suami menuju tempat kerja di kota Manado. Rumah kami di daerah Paniki kebetulan dekat dengan bandara. Biasanya riuh dengan suara mesin pesawat yang mau climbing/mendaki alias baru lepas landas dan juga pesawat mau landing. Kebetulan jalan raya yang kami lewati itu biasanya searah dengan jalur pesawat lagi climbing.

Nah anehnya gini nih, pagi itu ketika lagi melaju dengan motor kami lihat di aspal jalan raya depan kami ada bayangan serupa pesawat (atau benda/makhluk terbang bersayap) tapi bayangannya cukup besar. Kami seketika memelankan motor dan bahkan sempat mendongak ke atas, penasaran bayangan apakah itu? Tapi pas pandangan kami ke atas, tidak ada benda apapun yang nampak.

Sebenarnya bisa saja itu bayangan pesawat, mengingat jalan raya itu searah dengan jalur pesawat lepas landas, tapi ada beberapa keanehan :
1. Walaupun pesawat climbing di atas jalan raya, tapi posisinya sudah mulai tinggi sehingga biasanya tidak ada bayangan pesawat lagi yang nampak di aspal jalan raya. Nah pada kejadian pagi itu bayangan obyek tersebut cukup besar yang nampak di aspal jalan.
2. Walaupun pesawat sudah tinggi, namun suara desingan mesin pesawat jelas terdengar dan ribut meski lalu lintas jalan ramai. Sedangkan kejadian pagi itu, tidak ada suara desingan pesawat sama sekali. Kebetulan sedang tidak ada pesawat yang lewat.

Jadi bingung kira-kira itu benda apa. Jika benda itu adalah bayangan burung, tapi kok bisa membentuk bayangan yang cukup besar di aspal jalan, dan secepat itu hilang karena pas kami mendongak ke atas, tidak ada benda apapun.

Aneh...sungguh aneh

Selasa, 04 Oktober 2016

Suatu Pagi Ketika Aplikasi Kerjaan Sedang Offline

Bismillah...

Lagi semangat-semangatnya inputin surat, eh aplikasinya offline. Ya udah corat coret blog lagi aja. Emmm, kemarin aku nonton sebuah film lawas banget, produksi tahun 1993 (aku masih SD), berjudul Philadelphia, dengan bintangnya Tom Hanks dan Denzel Washington.

Berkisah tentang suatu hal yang tabu pada saat itu, AIDS dan Homoseksual. Si Andy Beckett yang diperankan Tom Hanks adalah sebuah pengacara andal yang bekerja pada sebuah firma hukum, dan telah memenangkan berbagai perkara. Namun sayangnya dia seorang gay, dan apesnya dia tertular AIDS karena aktivitas seksualnya yang menyimpang itu. Pihak firma akhirnya mengetahui sakitnya, justru ketika dia sedang diberi tugas penting untuk menangani sebuah perkara besar dan bergengsi. Pihak firma tidak ingin dia bekerja lagi karena dia seorang ODHA. Akhirnya dia pun di sabotase hingga pihak firma memiliki alasan untuk memecatnya.

Andy tidak terima karena dia merasa sudah bekerja mati-matian, dan dia merasa disabotase dan didiskriminasi sebab ODHA. Dia pun menghubungi temannya yang diperankan oleh Denzel Washington yang juga sesama pengacara untuk membelanya.

Tom Hanks memenangkan Oscar dari film ini, padahal menurut aku bintang dalam film ini sebenarnya adalah si Denzel Washington. Aktingnya luar biasa. Mulai sejak dia gamang untuk berinteraksi dengan Andy Beckett setelah dia tau temannya itu menderita AIDS, hingga akhirnya dia berubah pikiran untuk membantu dan berjuang di persidangan untuk meyakinkan para juri. Sekali lagi aku bilang, Denzel Washington bintang dalam film ini.

Terlepas dari materi film ini tentang AIDS dan Homoseksual, pesan yang aku tangkap saat nonton sebenarnya adalah soal persamaan hak. Oke aku setuju, tapi soal perilaku homoseksual, itu tentu tidak patut untuk diperjuangkan. Dan sesuatu untuk disembuhkan. Well, semoga kita dan segenap keluarga dijauhkan dari hal-hal tersebut.

Btw...pasangan gay si Andy diperankan oleh Antonio Banderas yang lagi muda-mudanya. Aku geli sendiri lihat adegan Tom Hanks dan Antonio berdansa dengan sangat intim, dimana si Antonio menyandarkan wajahnya ke leher Tom..layaknya wanita yang sedang bermanja ke seorang lelaki....hiyyyy...dan tatapan mata Tom Hanks ke Antonio benar-benar mesra...haduhhh....secara kan mereka berdua terkenal lelaki sejati hehehe tapi itu bentuk profesionalisme mereka dalam bekerja (baca : berakting)

Itu aja sih

Minggu, 25 September 2016

Film "Sully", Satu Keajaiban Yang Terpilih

"this is the Captain, brace for impact!"
apakah yang akan terjadi selanjutnya.........


Bismillah.....

Alhamdulillah bisa menulis blog ini lagi, setelah dua hari lalu menonton sebuah film hollywood yang berjudul SULLY.

Cukuplah Tom Hanks yang membuatku tertarik untuk merogoh kantong buat beli tiket nonton bioskop. Entahlah bagiku, Tom Hanks itu sebuah "label jaminan" bahwa sebuah karya yang melibatkan dia maka itu berkualitas dan tidak sembarangan. Dan ternyata terbukti, aku sangat puas dengan film ini. Oke, cukup dengan Tom Hanksnya, sekarang beralih ke filmnya...

Sully adalah sebuah film berdasarkan kisah nyata yang disutradarai Clint Eastwood, lagi-lagi sebuah nama besar dalam perfilman Hollywood. Diangkat dari kisah heroik pendaratan darurat pesawat di air (ditching) pesawat US Airways dengan nomor penerbangan 1549 yang dipiloti Kapten Chesley "Sully" Sullenberger setelah kira-kira 3 menit lepas landas dari bandara La Guardia tanggal 15 Januari 2009. Keputusan untuk mendarat darurat diambil pasca pesawat ditabrak sekawanan burung hingga mematikan kedua mesinnya. 

Pengalaman pilot Sully yang telah 40 tahun wara wiri di udara membuat dirinya tetap tenang dalam menghadapi kejutan tersebut. Dirinya dan sang Kopilot menerapkan prosedur dengan membuka buku panduan untuk melihat SOP, disamping tetap berkomunikasi dengan otoritas bandara La Guardia. Tercatat 208 detik waktu untuk menjalankan SOP dan berkomunikasi dengan pihak ATC, Pihak ATC pun dengan sigap berusaha keras membantu, bahkan berkoordinasi dengan otoritas bandara terdekat yaitu bandara Teterboro. Intinya, bandara La Guardia dan bandara Teterboro sudah menyiapkan landasan untuk US Airways, namun dalam rentang waktu 208 detik tersebut pesawat sudah mencapai titik rendah untuk bisa berputar ke bandara-bandara tersebut.  Bunyi alarm "too low, terrain!" dan "pull up!" bergema dengan horrornya (hihihi lebay dah aku), menandakan pesawat sudah sangat dekat dengan daratan hingga tidak bisa bermanuver lagi. Dan akhirnya dipilihlah sungai Hudson sebagai tempat pendaratannya.

Berbeda dengan film sejenis seperti Flight yang dibintangi Denzel Washington, dimana rangkaian kejadian kecelakaan pesawat ditampilkan dahulu di awal film, film Sully justru di awal menampilkan profil sang pilot yang sedang dikarantina di hotel (karena sedang dalam investigasi KNKT) dalam  keadaan bingung, dan trauma. Bayangan-banyangan kejadian dalam pesawat dan puja puji publik terhadap dirinya plus sorotan dan investigasi KNKT membuat dirinya dalam keadaan tidak menentu.

Aku pun mulai geregetan, mana sih adegan pesawatnya harus ditching itu. hehehe tapi disinilah menurutku letak kehebatan sutradara, bagian yang klimaksnya itu disimpan hingga ke bagian 2/3 menjelang film berakhir, yaitu saat Sully dan sang kopilot bersiap menhadapi sidang KNKT (kalo di Amrik sono sebutnya NTSB). Jika di Flight alurnya klimaks menuju antiklimaks, maka dalam film Sully aku merasakan sebaliknya.

Dan bagian terbaiknya, klimaks dalam film ini, tentu saja saat sidang KNKT tersebut. Menurut hasil investigasi, Pilot Sully dituduh bertindak ceroboh dengan mendaratkan pesawat di sungai padahal, menurut KNKT yang didukung dengan hasil simulasi dari Airbus, US Airways nahas itu seharusnya bisa didaratkan di La Guardia dan atau Teterboro. Bahkan disidang tersebut diputarkan simulasi yang menggunakan pilot lain, dan nampak bahwa pesawat bisa mendarat mulus di dua bandara tersebut. Pada bagian ini aku mulai kesel dengan KNKTnya. Coba kamu yang duduk dikokpit pada saat itu! hehehe dan aku juga berbisik ke suami disamping, "Mas kok dalam simulasi gak keliatan para pilotnya berkomunikasi dengan ATC". Selesai simulasi diputar, pihak KNKT pun bersiap untuk mendengar pembelaan pilot Sully dan kopilotnya. Di luar dugaan, Sully justru berujar -yang kira-kira -"Sudah bisa serius sekarang?". Pihak KNKT pun terperangah. Investigasi dengan simulasi tersebut sudah barang tentu sangat serius dan melibatkan banyak pihak. Tapi buat pilot Sully, itu tidak serius, bagaimana tidak, mereka menghilangkan satu point penting, satu faktor penting, FAKTOR MANUSIA. Bagaimana saat kejadian tabrakan dengan burung, mereka kaget dan berusaha menjalankan SOP hingga berkoordinasi dengan ATC, bahkan ATC pun perlu berkoordinasi dengan ATC bandara lain, dan kesemuanya itu memakan waktu 208 detik. Bayangkan 208 detik melayang dengan kecepatan tinggi sambil memutar otak memikirkan strategi, izin untuk mendarat di La Guardia atau Teterboro baru muncul setelah 208 detik tersebut. Akhirnya kapten Sully meminta untuk simulasi lagi dengan mengambil waktu tenggang 35 detik saja, sebelum mendarat. Hasilnya? silakan menonton saja ya.....

Peristiwa US Airways ini terkenal dengan istilah Miracle on Hudson, dimana semua penumpang dan awak penerbangan yang total berjumlah 155 orang berhasil selamat. Yah, makanya disebut miracle, keajaiban. Namun sejatinya, 7 tahun sebelum kejadian US Airways ini, ada sebuah keajaiban juga di sungai Bengawan Solo, ketika pesawat Garuda Indonesia yang dipiloti Kapten Abdul Rozak berhasil mendarat darurat di anak sungai Bengawan Solo, dengan semua penumpangnya selamat, namun korban jiwa 1 orang pramugari yang duduk di bagian ekor dan terlempar keluar ketika bagian ekor pesawat tersebut pecah menhantam bebatuan. Peristiwa ini pun terjadi pada bulan Januari, yaitu 16 Januari 2002. Ini pun sungguh kisah yang sangat heroik, bahkan menurutku ini juga sebuah keajaiban. Jika US Airways tertabrak burung pada 3 menit pasca lepas landas, maka Garuda Indonesia masuk awan kumulonimbus dan mati mesin pada ketinggian 23ribu kaki, setelah menghadapi goncangan-goncangan hebat. Dan jika US Airways mendarat di singai Hudson yang lebar dan lepas, maka Garuda Indonesia mendarat di anak sungai Bengawan Solo yang berkelok-kelok. Luar biasa!!!

Kapten Sully dan Kapten Abdul Rozak, mereka adalah Pahlawan. Peristiwa mereka sejatinya adalah keajaiban. Namun karena Kapten Sully hidup di Amrik, maka kisahnya lah yang TERPILIH untuk diabadikan dalam sebuah film yang apik. Sineas kita disini sayang sekali belum ada yang tergerak untuk mengabadkan kisah heroik Kapten Abdul Rozak.

catatan ; salut untuk film SULLY yang berhasil menyuguhkan tontonan bermutu denagn tanpa menjual wanita dan aurat, atau kisah asmara murahan. Melalui film ini terbukti, tanpa yang berbau vulgar pun film Hollywood bisa bermutu dan menarik. Clint Eastwood berhasil membuat film sebagai produk yang menjual.

Senin, 18 April 2016

Tengah Malam Yang Mencerahkan

In the middle of the nightI go walking in my sleepFrom the mountains of faithTo a river so deep
I must be looking for somethingSomething sacred I lostBut the river is wideAnd it's too hard to cross
And even though I know the river is wideI walk down every evening and I stand on the shoreAnd try to cross to the opposite sideSo I can finally find out what I've been looking for
In the middle of the nightI go walking in my sleepThrough the valley of fearTo a river so deep
And I've been searching for somethingTaken out of my soulSomething I would never loseSomething somebody stole
I don't know why I go walking at nightBut now I'm tired and I don't want to walk anymoreI hope it doesn't take the rest of my lifeUntil I find what it is that I've been looking for
In the middle of the nightI go walking in my sleepThrough the jungle of doubtTo a river so deep
I know I'm searching for somethingSomething so undefinedThat it can only be seenBy the eyes of the blind
In the middle of the night
I'm not sure about a life after thisGod knows I've never been a spiritual manBaptized by the fire, I wade into the riverThat runs to the promised land
In the middle of the nightI go walking in my sleepThrough the desert of truthTo the river so deep
We all end in the oceanWe all start in the streamsWe're all carried alongBy the river of dreams
In the middle of the night
Bismillah....
Kata-kata di atas adalah bait lagu River of Dreams yang dinyanyikan oleh Billy Joel. Itu lagu jadul sih, pernah denger waktu kecil cuman baru ngeh sekarang kalo judulnya River of Dreams. Iramanya rancak, enak didengar dan liriknya bisa memotivasi.
Lagu ini kira-kira bercerita tentang keinginan seseorang untuk mencari "sesuatu" dengan sangat gigih walopun harus menyeberangi sungai yang dalam. Namun dia sendiri belum bisa memastikan APA sebenarnya yang dia cari itu. Yah seperti itulah.
Ada satu kalimat yang selalu diulang dalam lagu ini, yaitu in the middle of the night. Aku jadi terpaku pada kalimat itu. Yeah, Tengah Malam, aku suka itu. Tengah malam yang hening, membuat hati jadi bening dan fikiran jernih. Kalo aku ingat-ingat, ada beberapa lagu juga yang bercerita tentang perenungan yang dilakukan pada waktu malam atau tengah malam. Ada apa dengan tengah malam? Apa istimewanya tengah malam? 
Bahkan agama Islam memberikan label yang istimewa pada tengah malam, khususnya di ujung malam. Umat Islam dianjurkan bangun untuk melakukan shalat Tahajjud dan mendekatkan diri pada Allah SWT sebagai ibadah tambahan yang istimewa. Dan tidak semua orang mampu melakukannya. Bayangkan, tengah malam itu waktu yang enak untuk tertidur, sangat sedikit orang yang mau bangun untuk beribadah. Apalagi merenungi dirinya sendiri.
Bagiku, tengah malam adalah waktu yang sangat istimewa dalam 24 jam. Dan jujur saja aku juga tidak bisa tiap hari menikmati beningnya tengah malam itu, makanya bagiku itu istimewa karena untuk menikmatinya harus melawan kemalasan yang terasa memberatkan. Kesunyian dan kegelapan tengah malam ternyata membuat pikiran cerah. Muramnya tengah malam justru bisa membuat mata melihat dari sudut yang berbeda. Segala benda dan tiap sudut dunia bisa terlihat berbeda ketika tengah malam. Dan tentu saja segala permasalahan bisa terlihat lain ketika direnungi saat tengah malam. Mungkin itu juga yang menginspirasi Billy Joel untuk mencari sesuatunya justru pada tengah malam. Tengah malam adalah waktu untuk membuka pintu kearifan dalam pikiran, yang pada waktu siang hari mungkin sangat susah untuk terketuk.
Tengah malam itu.....mencerahkan
*coretan suatu siang di kantor sehabis istirahat, ketika berkas perkara kasasi dan surat-surat sudah selesai dikerjakan

Selasa, 05 April 2016

Akrabnya Dewan Keamanan PBB Dengan Sistem (seperti) Syura, Bagaimana Dengan Kita (Muslim)?

Bismillah.....

Ini adalah corat coret ringan dijam rehat kantor, setelah kurang lebih 4 jam berkutat dengan berkas perkara Kasasi dan surat-surat yang harus diinput ke aplikasi persuratan Badilag. 

Adalah belasan tahun lalu ketika sedang menyusun skripsi dalam rangka meraih gelar Sarjana dari fakultas Hukum UNSRAT Manado, sebuah pemikiran lahir begitu saja dari kepala ini. Kebetulan waktu itu objek ulasan pada skripsi aku adalah tentang Dewan Keamanan PBB, sebuah organ dalam struktur Perserikatan Bangsa-Bangsa yang, sesuai Piagam PBB, bertujuan untuk menjaga dan memelihara keamanan dan perdamaian dunia. Sebuah misi yang mulia, misi yang sering aku dengar dalam film-film kartun tentang jagoan dalam membela kebenaran dan perdamaian dunia hehehe (mulai ngawur nih). Oh ya, Dewan Keamanan PBB itu sendiri memiliki 15 negara anggota, dengan rincian 5 negara Anggota Tetap (merekalah para pemenang Perang Dunia II dan dianggap bertanggungjawab dalam perdamaian dunia, yaitu USA, Perancis, Inggris, China dan Rusia) serta 10 negara anggota tidak tetap yang keanggotaannya bergilir tiap 2 tahun.

Ketika sedang melakukan riset tentang Dewan Keamanan PBB (selanjutnya disingkat DK PBB), betapa terkejutnya aku mendapati fakta baru yang selama ini tidak pernah terpikirkan olehku bahwa fakta ini akan aku dapati di DK PBB (duhh apa sih). Fakta itu berkaitan dengan sistem pengambilan  keputusan dalam DK PBB, sesuai pasal 27 Piagam PBB, bahwa dalam hal pengambilan keputusan untuk masalah prosedural maka berlaku minimal 9 suara dari 15 negara anggota DK PBB. Hal lumrah kan? Namun yang sangat mengusikku adalah mekanisme pengambilan keputusan untuk masalah Non Prosedural, yang berkaitan dengan tujuan dan fungsi DK PBB itu sendiri dalam menjaga keamanan dan perdamaian dunia, misalnya dalam menentukan situasi berbahaya dan mengancam perdamaian dunia, atau dalam hal menentukan sebuah negara terlibat dalam agresi yang bertentangan dengan perdamaian dunia, maka pengambilan keputusan berupa Resolusi ialah minimal 9 suara negara anggota dengan kebulatan suara dari 5 negara anggota tetap DK PBB. Dalam hal jika mayoritas negara mendukung namun satu negara anggota tetap tidak setuju dan menjatuhkan veto terhadap rancangan resolusi, maka rancangan itupun batal.

Sebuah pemikiran pun muncul di kepalaku, mengapakah untuk melahirkan resolusi yang berkaitan dengan hal penting yaitu perdamaian dunia, harus dengan kebulatan suara negara anggota tetap? Ya kita akan mengerti jika menarik garis hubung ke belakang, yaitu pada zaman berakhirnya Perang Dunai II dan dunia pun memasuki masa Perang Dingin. Pada waktu itu, aku masih bocah, namun aku masih dapat mengingat tentang keadaan dunia waktu itu (karena sudah terbiasa nonton Dunia Dalam Berita di TVRI dulu hehe). Ketika itu, pada masa Perang Dingin terdapat dua kutub negara adikuasa, yaitu USA dan Uni Sovyet. Merekalah "kiblat" dunia pada masa itu. Entah dalam hal ideologi, maupun dalam hal kekuatan persenjataan. Walaupun sempat ada gerakan Non Blok yang digagas salah satunya oleh Presiden Soeharto, namun pengaruh dua negara besar tersebut sangat kuat. Nah, keseimbangan di antara kedua sejoli ini (hihihi) dianggap dapat menjadi pilar demi tegaknya perdamaian. Maksudnya, jika keduanya dalam keadaan sepakat maka perdamaian tercipta. Begitulah kira-kira aku menggambarkan secara kasar. Nah begitu pula dengan 3 negara anggota tetap lainnya, pada dasarnya mereka adalah "pengikut" salah satu dari dua negara adikuasa tersebut. Jadi, veto itu semacam hak eksklusif yang diberikan pada 5 negara besar tersebut karena beratnya beban mereka dalam menjaga perdamaian dunia. Sekali lagi, bersepakatnya mereka dalam sebuah rancangan resolusi perdamaian, merupakan barometer untuk terciptanya perdamaian. Ya kira-kira gitulah. Memang bagiku agak rancu, tapi akupun akan maklum dan paham jika melihat sisi historisnya. Memang ini lebih kental politisnya.

Terus, mengapa aku terkejut dengan fakta 5 negara anggota tetap di atas? Ya, aku terkejut dalam hal mekanisme pengambilan keputusan, bahwa untuk masalah prosedural (kasarnya, masalah baisa-biasa saja, RUTIN) DK PBB menerapkan sistem pemungutan suara one nation one vote, dengan prinsip kesamaan suara baik untuk negara anggota tetap maupun tidak tetap. Namun untuk masalah urgent tentang perdamaian dunia, eitss nanti dulu! Suara negara anggota tetap menjadi sangat istimewa, bahkan menjadi sangat diperhitungkan bahkan bagi mereka sesama negara anggota tetap. Jika 4 negara anggota tetap setuju tapi ada 1 negara tidak setuju dan menjatuhkan veto, maka resolusi batal.

Ternyata bagi DK PBB, sistem pemungutan suara dengan one nation one vote itu untuk level biasa. Sedangkan untuk hal urgent, yang menjadi tugas pokok dan misi mereka, malah tidak berlaku "demokrasi one nation one vote", tapi mereka justru mengadopsi sistem seperti Syura dalam Islam, dan Ijma' dari kelima negara anggota tetap itulah yang berlaku.

Yeah, memang aku juga sepakat untuk membahas dan memutuskan hal-hal penting, tiap keputusan haruslah dengan mempertimbangkan kualitas mereka yang memberikan suara. Dan inilah kelemahan sistem one man one vote, suara seorang professor dan alim ulama, yang memberikan suara berdasarkan hasil pemikiran matang sesuai keilmuan mereka, nilainya SAMA dengan suara seorang (maaf) pemabuk dan pecandu narkoba misalnya, yang mungkin memberikan suaranya tanpa berpikir, ataupun pemikirannya tidak berdasarkan ilmu. Dan filosofi inilah yang dianut DK PBB, bahwa lima negara anggota tetap yang mempunyai pengaruh besar dalam perdamaian dunia itu tidak otomatis sama dengan negara anggota tidak tetap. Mirip dengan sistem Syura dalam Islam, latar belakang keilmuan seseorang sangat dihargai suaranya. 

Terlepas dari substansinya, ataupun materi keputusan DK PBB, maupun siapa mereka para negara anggota tetap, tapi cara dan prosedur mereka cukup menarik perhatianku. Buat aku seorang Muslim, jangan terlalu tersedot dan menjadikan one man one vote sebagai satu-satunya cara untuk mengambil keputusan. Islam sendiri sudah memiliki sebuah mekanisme handal, yaitu Syura, bermusyawarahlah. Jangan mau kalah dengan DK PBB lhooo....met makan siang yach